
Setelah masa pengobatan Bella selesai, perjalanan kami ternyata belum benar-benar berakhir. Kesembuhan secara fisik adalah satu hal besar, tetapi sebagai seorang ibu, ada kekhawatiran lain yang perlahan muncul: bagaimana dengan masa depan pendidikannya?
Bella menjalani homeschooling.
Bukan homeschooling dengan sistem yang lengkap dan terstruktur seperti sekolah formal, melainkan dengan sumber yang sangat sederhana: YouTube, buku-buku yang kami beli, dan bimbingan seadanya dari rumah. Di satu sisi saya bersyukur, karena ia masih bisa belajar. Di sisi lain, hati saya sering diliputi pertanyaan:
“Apakah ini cukup?”
“Apakah ia akan tertinggal?”
“Bagaimana mungkin anak dengan latar belakang seperti ini bisa masuk ke dunia Biologi yang kami tahu sangat sulit?”
Padahal sejak sebelum sakit pun, Bella sudah memiliki satu impian yang jelas: ia ingin belajar Biologi.
Sebuah impian yang indah, tetapi terasa sangat jauh dari kondisi kami saat itu.
Di tengah pergumulan itu, saya membaca buku Otoritas Orang Percaya karya Andrew Wommack. Buku ini mengubah cara pandang saya tentang doa, tentang iman, dan tentang posisi saya sebagai orang percaya. Saya mulai memahami bahwa iman bukan hanya tentang berharap, tetapi tentang berdiri di dalam apa yang Tuhan sudah percayakan.
Firman Tuhan berkata:
“Sesungguhnya, Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.”
(Lukas 10:19)
Ayat ini membuat saya merenung.
Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk berdoa dengan penuh permohonan, tetapi juga untuk berdiri dengan keyakinan bahwa kita memiliki otoritas rohani di dalam Kristus. Sebagai seorang ibu, saya menyadari bahwa saya dipanggil bukan hanya untuk mengasihi anak saya, tetapi juga untuk mendoakannya dengan iman yang berdiri teguh.
Saya mulai mengubah cara saya berdoa.
Bukan lagi dengan nada ketakutan,
melainkan dengan keyakinan:
“Tuhan, Engkau yang menyembuhkan hidupnya.
Engkau juga yang memegang masa depannya.
Engkau yang menaruh mimpi di dalam hatinya,
dan Engkau setia menyelesaikannya.”
Bukan berarti kekhawatiran langsung hilang.
Saya tetap manusia.
Saya tetap bertanya-tanya.
Tetapi saya belajar untuk tidak membiarkan kekhawatiran menjadi suara yang paling kuat di hati saya.
Lalu ayat ini menjadi penguat lain bagi saya:
“Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala hal dan malah berkelimpahan di dalam berbagai kebajikan.”
(2 Korintus 9:8)
Jika Tuhan sanggup menyediakan kesembuhan,
Ia juga sanggup menyediakan hikmat.
Jika Tuhan sanggup memulihkan tubuh,
Ia juga sanggup menuntun masa depan.
Homeschooling kami mungkin tampak tidak ideal di mata banyak orang.
Resource kami terbatas.
Jalan kami terasa tidak rapi.
Tetapi saya belajar percaya bahwa Tuhan tidak dibatasi oleh sistem, kurikulum, atau metode. Ia bekerja melalui ketaatan kecil, doa yang sederhana, dan hati yang mau percaya.
Buku Otoritas Orang Percaya menolong saya melihat bahwa iman bukan hanya soal menunggu, tetapi juga tentang mengambil posisi rohani yang Tuhan berikan. Posisi sebagai seorang ibu yang berdiri di hadapan Tuhan, membawa masa depan anaknya dalam doa dengan penuh keyakinan.
Saya tidak sedang memaksakan masa depan Bella.
Saya hanya menyerahkannya sepenuhnya kepada Tuhan,
sambil percaya bahwa Dia jauh lebih mengasihi anak saya
daripada saya pernah mampu mengasihinya.
Hari ini, ketika saya melihat perjalanan hidup Bella, saya tahu:
iman tidak berhenti pada kesembuhan.
Iman berlanjut pada panggilan hidup.
Iman berjalan bersama waktu.
Dan iman sering kali bekerja di tempat yang tampaknya paling tidak sempurna.
Tulisan ini saya simpan di website legacy ini sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, dan mungkin juga bagi orang tua lain yang sedang berada di persimpangan antara takut dan percaya:
Kita tidak harus tahu seluruh peta masa depan.
Kita hanya perlu berdiri di dalam iman hari ini,
dan percaya bahwa Tuhan yang setia akan membuka langkah demi langkah.
