Anakku Pernah Sakit Kanker

2cd6215cb44d961fb17c98c1c9025afb 2

Anakku Pernah Sakit Kanker

Ada satu bagian dalam hidupku yang lama kusimpan dalam diam. Bukan karena aku menyangkalnya, tetapi karena aku perlu waktu untuk benar – bebqr memahami maknanya.

Anak perempuanku, yang saat itu (2015) masih remaja, didiagnosis sakit kanker. Kata itu datang begitu saja, tanpa memberi ruang untuk bersiap, dan sejak hari itu, hidup kami tidak pernah benar-benar sama.


Kami bukan keluarga berada. Tidak ada kemewahan, tidak ada rasa aman finansial yang bisa dijadikan sandaran. Yang kami miliki hanyalah iman untuk menghadapinya—sebagai orang tua, sebagai keluarga. Hari-hari kami diisi dengan keputusan-keputusan kecil yang terasa besar: menjaga tubuh tetap kuat, memilih apa yang masuk ke dalam makanan, dan membatasi pertemuan dengan orang lain saat kondisi tubuhnya sangat rentan.

Ada masa ketika kami harus benar-benar membatasi pertemuan dengan dunia luar. Saat menjalani kemoterapi, daya tahan tubuh anakku sangat menurun—bahkan nyaris tidak memiliki perlindungan alami. Dalam kondisi itu, hal sederhana seperti flu bisa menjadi sangat berbahaya. Karena itulah kami memilih menarik diri, bukan karena takut berlebihan, tetapi demi melindungi hidupnya dan memberi tubuhnya kesempatan untuk pulih.

Secara medis, saat itu jumlah sel darah putih pelindung tubuhnya sangat rendah—bahkan bisa mencapai nol—sehingga tubuhnya hampir tidak memiliki pertahanan terhadap infeksi.


Sebagai seorang ibu, ada saat-saat ketika aku merasa sangat kecil. Tidak berdaya.

Aku tidak bisa menggantikan rasa sakitnya, tidak bisa mempercepat prosesnya. Yang bisa kulakukan hanyalah menemani, menjaga, dan percaya—bahwa hidup anakku tidak berhenti pada diagnosis ini.

Di tengah ketidakpastian itu, aku belajar bahwa kekuatan seorang ibu terletak pada kesediaannya untuk tetap berdiri, bahkan ketika hatinya gemetar.


Hari ini, ketika aku menoleh ke belakang, aku tidak melihat perjalanan itu sebagai kisah tentang penderitaan. Aku melihatnya sebagai kisah tentang perjalanan iman, tentang tubuh yang berjuang untuk sembuh, dan tentang keluarga yang belajar saling menopang.

Aku memilih membagikan cerita ini bukan untuk mengulang luka, tetapi untuk mengatakan dengan jujur: kami pernah berada di sana, dan kami tidak ditinggalkan.

Di saat aku tidak mengerti jalan Tuhan, aku belajar mempercayai hati-Nya—karena kasih-Nya tetap bekerja, bahkan ketika langkah kami terasa rapuh.

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati,
dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
(Mazmur 34:19)

Scroll to Top