Mengikhlaskan dan Melangkah
Ada satu tahap yang tidak banyak dibicarakan setelah masa sakit berlalu: tahap mengikhlaskan. Bukan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, tetapi mengikhlaskan ketakutan yang tertinggal.
Sebagai ibu dari seorang anak yang pernah sakit kanker, aku harus belajar menerima bahwa aku tidak bisa mengontrol masa depan Bella—seberapa pun besar keinginanku untuk melindunginya dari segala kemungkinan.
Ketika Bella mulai kembali menata hidupnya, aku pun belajar mundur satu langkah. Bukan menjauh, tetapi memberi ruang. Ruang bagi tubuhnya yang telah berjuang untuk menemukan ritmenya sendiri.
Ruang bagi mimpinya yang perlahan tumbuh kembali. Dan ruang bagi diriku sendiri untuk tidak terus hidup dalam mode berjaga. Mengikhlaskan, ternyata, adalah proses yang lembut sekaligus menantang.
Perjalanan ini mengubah cara pandangku tentang kehidupan. Aku tidak lagi melihat hari esok sebagai sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sebagai anugerah yang patut dijalani dengan penuh kesadaran.
Bella tidak lagi hanya anak yang pernah sakit; ia adalah pribadi yang kuat, dengan kisah hidupnya sendiri. Dan aku, sebagai ibunya, memilih untuk melangkah ke depan—membawa kenangan ini bukan sebagai beban, tetapi sebagai sumber makna.
Kini, ketika aku membagikan cerita ini, aku melakukannya dengan hati yang lebih tenang.
Bukan untuk membuka luka lama, tetapi untuk meninggalkan jejak—bahwa pernah ada masa sulit yang kami lalui bersama, dan bahwa dari sana, kami belajar tentang kasih, ketabahan, dan harapan yang tidak pernah sia-sia.
Saat aku melepaskan ketakutan yang dulu mengikat hatiku, aku belajar mempercayakan masa depan Bella sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.
