Belajar Hidup Kembali Setelah Kemo Selesai
Tidak ada satu hari pun yang benar-benar kami tandai sebagai “selesai”. Pengobatan memang berakhir, tetapi pemulihan tidak datang dalam satu pengumuman besar. Ia hadir perlahan, hampir tak terdengar—dalam napas yang sedikit lebih panjang, dalam langkah yang tidak lagi terlalu ragu, dalam tubuh yang mulai belajar percaya pada dirinya sendiri.
Kami belajar kembali menjalani hari tanpa jadwal medis yang ketat, namun dengan kewaspadaan yang masih tersisa. Ada kegembiraan kecil saat melihat energi mulai kembali, tetapi juga ada ketakutan yang diam-diam ikut menyertai. Sebagai ibu, aku harus belajar menahan diri—tidak terlalu melindungi, tidak terlalu cemas—sambil menerima bahwa proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran yang berbeda.
Pemulihan juga mengajarkan kami tentang penerimaan. Bahwa tubuh yang telah berjuang tidak perlu dipaksa untuk segera menjadi seperti dulu. Kami merayakan hal-hal sederhana: bisa makan dengan lebih bebas, bisa tertawa tanpa cepat lelah, bisa merencanakan hari esok tanpa terlalu banyak “bagaimana jika”. Dalam keheningan masa ini, aku menyadari bahwa hidup tidak kembali ke titik awal—ia bergerak ke bentuk yang baru.
Kini, ketika aku mengingat fase ini, aku melihatnya sebagai masa belajar percaya lagi. Bukan hanya percaya pada tubuh yang sembuh, tetapi percaya pada hidup itu sendiri.
Bahwa setelah melewati masa paling gelap, masih ada ruang untuk bertumbuh—dengan hati yang lebih lembut dan pandangan yang lebih jernih.
Pemulihan mengajarkanku bahwa Tuhan tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga menuntun kami untuk hidup kembali dengan iman yang lebih matang.
