Ketika Saya Percaya, Walau Saya Takut

2016 finished chemotherapy

Tahun 2016 kami kembali ke Bali setelah seluruh rangkaian kemoterapi Bella selesai di NUH, Singapura. Secara medis, pengobatan sudah berakhir. Tetapi secara batin, perjalanan kami belum sepenuhnya tenang. Ada satu kata yang terus menghantui: relapse. Kanker bisa datang kembali. Dan ketakutan itu, jujur saja, tidak langsung hilang hanya karena sesi pengobatan telah selesai.

Kami berusaha hidup normal. Menata ulang kehidupan. Bersyukur atas setiap hari yang boleh kami jalani bersama. Namun sebagai seorang ibu, saya selalu waspada. Setiap perubahan kecil di tubuh anak saya terasa besar di hati saya.

Lalu suatu hari, sekitar Maret 2017, beberapa minggu setelah check up tahunannya, kami menemukan benjolan kecil di leher Bella. Dunia saya seakan berhenti. Pikiran saya langsung kembali ke masa-masa di rumah sakit. Ke ruang kemoterapi. Ke malam-malam panjang penuh doa dan air mata. Dokter mengatakan, jika dalam seminggu benjolan itu tidak kempes, kami harus segera memeriksakannya lebih lanjut, bahkan bersiap kembali ke Singapura.

Di luar, saya berusaha terlihat tenang.
Di dalam, saya sangat takut.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
(Ibrani 11:1)

Pada masa itu, saya sedang membaca sebuah buku rohani berjudul Anda Sudah Memiliki Segalanya karya Andrew Wommack, sebuah buku yang secara pribadi menguatkan iman saya di masa-masa paling rapuh. Isi buku itu mengingatkan saya akan satu kebenaran yang sederhana, tetapi sangat dalam: bahwa melalui karya Tuhan Yesus di kayu salib, segala yang kita perlukan sudah disediakan. Termasuk kesembuhan. Termasuk damai sejahtera. Termasuk kekuatan untuk percaya di tengah ketakutan.

Kalimat itu berulang kali terngiang di hati saya:
Kesembuhan itu sudah ada.

Bukan berarti saya tiba-tiba menjadi orang yang tidak takut. Saya tetap takut. Saya tetap manusia. Tetapi di tengah ketakutan itu, saya memilih untuk berpegang pada iman. Saya memilih untuk percaya bahwa apa yang firman Tuhan katakan lebih besar daripada apa yang mata saya lihat saat itu.

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
(2 Timotius 1:7)

Saya berdoa.
Bukan dengan doa yang panjang dan indah.
Tetapi dengan doa seorang ibu yang jujur:

“Tuhan, aku takut. Tapi aku percaya.
Aku percaya kesembuhan itu sudah Engkau sediakan.”

Hari demi hari kami menunggu.
Setiap kali saya melihat benjolan itu, hati saya berdebar.
Setiap kali saya berdoa, saya mengingatkan diri sendiri untuk kembali percaya.

Dan kemudian, perlahan… benjolan itu kempes.
Tanpa intervensi medis.
Tanpa perjalanan darurat ke Singapura.
Tanpa kabar buruk yang selama ini saya takutkan.

Yang datang justru damai.
Syukur.
Dan satu kesadaran yang dalam: iman bukanlah tidak adanya ketakutan, tetapi keberanian untuk tetap percaya di tengah ketakutan.

Sekarang, di tahun 2025, ketika saya membangun website legacy ini, kenangan itu kembali hidup. Bukan untuk membuka luka lama, tetapi untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa Tuhan setia. Bahwa di masa paling rapuh dalam hidup kami, Dia memegang kami dengan sangat nyata.

Saya menulis ini bukan untuk mengklaim bahwa iman saya sempurna.
Saya menulis ini karena saya tahu, di luar sana ada banyak orang tua yang sedang berada di posisi yang sama:
takut, cemas, tetapi ingin percaya.

Dan jika kamu salah satunya, mungkin kisah ini ingin berkata satu hal kepadamu:

Kamu boleh takut.
Itu manusiawi.
Tetapi kamu juga boleh memilih untuk percaya.
Karena sering kali, mukjizat dimulai bukan dari keyakinan yang sempurna, melainkan dari hati yang berkata:
“Aku takut… tapi aku tetap mau percaya.”

Scroll to Top