Saat Kami Berdua di NUH dan Bella Menjalani Ronde Kedua Kemoterapi

Ditulis tahun 2025 – mengenang Natal yang tak pernah bisa saya lupakan
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak Natal itu. Kini, ketika saya kembali mengingat momen-momen Natal dalam hidup kami, satu peristiwa selalu muncul paling jelas di hati saya—Natal yang kami jalani di rumah sakit, saat Bella harus menginap untuk menjalani kemoterapi. Bukan karena kesedihannya semata, tetapi karena di sanalah saya belajar arti iman, keteguhan, dan kasih yang hadir di tempat yang paling tak terduga.
Natal 2015 tidak kami rayakan di rumah. Tidak ada pohon Natal, tidak ada meja makan keluarga, dan tidak ada keramaian khas akhir tahun. Natal itu kami jalani di National University Hospital (NUH), Kent Ridge, Singapura—di bangsal anak, tempat putri saya, Bella, harus menjalani ronde kedua kemoterapinya.
Saat itu, kami hanya berdua.
Saya dan Bella menginap di rumah sakit, sementara suami saya dan anak bungsu kami, Owen, berada di Bali. Kami terpisah oleh jarak Jakarta–Singapura. Natal yang biasanya menjadi momen berkumpul justru kami jalani dalam sunyi, masing-masing memikul peran dan doa dari tempat yang berbeda.
Suasana rumah sakit saat Natal terasa lain. Lorong-lorong NUH yang biasanya sibuk menjadi lebih lengang. Jumlah pengunjung berkurang, langkah kaki terdengar lebih pelan, dan bangsal anak terasa lebih hening—seolah semua orang sedang belajar untuk hadir dengan hati yang lebih lembut.
Di bangsal anak, kami menyaksikan kebijakan yang penuh empati. Beberapa pasien anak mendapat keringanan dari tim medis—jadwal kemoterapi mereka boleh ditunda agar bisa pulang dan merayakan Natal bersama keluarga. Ada wajah-wajah kecil yang berseri, dan orang tua yang menahan air mata haru karena bisa membawa anak mereka pulang, meski hanya sebentar.
Namun, tidak semua anak mendapat kesempatan itu.
Bella, yang saat itu berusia 14 tahun—seorang remaja, belum dewasa, namun secara medis masih dirawat di bangsal anak—tidak mendapatkan penundaan kemoterapi. Kondisinya mengharuskan pengobatan tetap berjalan sesuai jadwal. Menunda berarti memberi peluang bagi sel kanker untuk tumbuh kembali di antara sel-sel sehat yang baru mulai pulih.
Kami memahami itu. Dan Bella pun memahaminya.
Selama ronde kedua kemoterapi itu, Bella harus menjalani rawat inap selama tujuh hari penuh di rumah sakit. Setiap hari, jumlah neutrofilnya terus menurun hingga mencapai titik nol.
Dalam kondisi seperti itu, risiko infeksi menjadi sangat tinggi, dan sedikit saja paparan kuman bisa berujung pada komplikasi serius. Karena itulah, demi menjaga keselamatan dan keberhasilan pengobatan Bella, kami mengambil keputusan yang tidak mudah—Owen, adiknya, tidak kami izinkan datang dan menginap di Singapura.
Owen masih bersekolah dan beraktivitas seperti biasa, dan potensi membawa infeksi, sekecil apa pun, terlalu berisiko. Maka saya dan Bella tinggal berdua di NUH, sementara suami saya tetap mendampingi Owen di Bali. Pada saat itu, keberhasilan pengobatan Bella menjadi prioritas utama kami, meskipun artinya kami harus menjalani Natal dalam keadaan terpisah sebagai keluarga.
Bagi kami, itu bukan kehilangan Natal—melainkan langkah maju menuju kesembuhan.
Di tengah kesunyian Natal di rumah sakit, kami sempat merasakan sentuhan kecil yang sangat berarti. Saat itu, sekelompok relawan datang membawa hadiah Natal untuk anak-anak di bangsal, sebuah inisiatif sederhana yang dikenal sebagai Tim’s Treats. Kunjungan singkat itu menghadirkan kehangatan yang berbeda—cukup untuk membuat Bella tersenyum, dan cukup untuk mengingatkan saya bahwa kasih bisa hadir bahkan di ruang paling sunyi.
Natal di rumah sakit mengajarkan kami makna perayaan yang berbeda. Tidak ada pesta, tidak ada tawa ramai. Yang ada adalah doa-doa yang dipanjatkan dalam diam, rasa rindu pada keluarga yang jauh, dan syukur yang sederhana: kami masih bersama, dan pengobatan bisa terus berjalan.
Di tengah keterbatasan itu, NUH—sebuah rumah sakit—menjadi ruang yang memberi Bella, seorang remaja yang belum dewasa, sedikit rasa Natal. Bukan melalui kemewahan, tetapi lewat perhatian, empati, dan kebaikan-kebaikan kecil yang hadir di tempat yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Natal itu tidak kami jalani dengan sukacita yang riuh. Kami menjalaninya dengan iman, ketenangan, dan harapan. Dan justru karena itulah, Natal di rumah sakit itu menjadi salah satu kenangan paling membekas dalam perjalanan kami.
Kini, di tahun 2025, Bella telah dewasa dan melewati masa – masa pemulihan dan meraih impiannya kembali. Namun kenangan Natal di rumah sakit tetap hidup dalam ingatan saya—bukan sebagai luka, melainkan sebagai penanda perjalanan. Natal itu mengajarkan saya bahwa harapan tidak selalu datang dalam bentuk keajaiban besar, tetapi sering hadir melalui ketekunan, ketaatan pada proses, dan kebaikan kecil yang Tuhan kirimkan tepat pada waktunya.
